Feb 22, 2010
Seni dan Etika Berkomentar
oleh Fikri
Kemampuan untuk mengomentari sebuah post merupakan satu aspek yang membuat blogging menjadi sangat menarik. Dengan fitur komentar, sebuah blog berubah dari ‘sekedar‘ media publikasi digital menjadi kanal media sosial dua-arah: sebuah mendia conversation. Kemampuan komunikasi dua arah inilah yang membuat blog menjadi lebih atraktif dari sekedar website biasa.
Within a great power, comes a great responsibility. Within a great feature, comes a great opportunity. Meskipun tidak ada aturan saklek tentang komentar – mengomentari sebuah blog post, terdapat beberapa etika dan saran yang akan sangat berguna dalam kegiatan mengomentari sebuah tulisan blog:
Sopan & santun
Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan
-Anonim-
Bersikaplah sopan dalam berkomentar. Bayangkan jika ada seseorang yang mengeluarkan bertindak tidak sopan di rumah anda. Sungguh tidak nyaman kan? Demikian pun dalam berkomentar. Blog adalah wilayah sang pemilik blog. Bersikaplah sopan saat berada di wilayah / ‘rumah’ orang lain. Bahkan jika anda tidak sependapat dengan apa yang ditulis oleh penulis blog, sampaikan lah dengan bahasa yang santun.
Berikan value kepada komentar anda
Hindari memberikan komentar sekedarnya. contoh: “nice info, gan” atau “yay, pertamax!” titik. Meskipun tidak ada yang melarang anda berkomentar sekedarnya dan komentar seperti itu tetap menghibur penulis bahwa ada yang memperhatikan tulisan mereka, tapi komentar sekedarnya seperti itu kurang memiliki value. Berikan value kepada komentar anda. Contoh: jika anda menyukai tulisan tersebut, sertakan juga pandangan anda mengenai topik yang diangkat dalam post tersebut. Tindakan ini akan membuat komentar anda lebih bermakna dan lebih menarik untuk ditanggapi.
Sertakan argumen anda
Sebuah tulisan blog seringkali memberikan pandangan personal si penulis, dan kita sering kali berbeda pendapat dengannya. Jika anda hendak menyanggah apa yang penulis blog sampaikan, ingat untuk selalu berikan argumen: sertakan alasan mengapa anda memiliki pendapat yang berbeda. Sebuah komentar yang jelas dan beralasan akan menjadi sebuah komentar lebih menarik untuk ditanggapi.
Gunakan gravatar
Kebanyakan blog menggunakan gravatar sebagai avatar komentarnya. Gravatar membuat komentar menjadi lebih manusiawi karena menunjukan avatar siapa gerangan di balik pemberi komentar, dan membuat komentar anda lebih menarik untuk ditanggapi. Membuat gravatar mudah dan gratis. Jika anda benar-benar belum mengetahui apa itu gravatar, baca tulisan ini: apa itu gravatar dan bagaimana cara menggunakannya.
Gunakan nama asli atau nickname yang secara konsisten anda gunakan
Tidak ada yang melarang anda untuk anonim dalam berkomentar, tapi mencantumkan nama menunjukkan siapa yang berkomentar dan hal itu sama dengan menunjukkan siapa yang bertanggung jawab atas komentar yang diberikan. Sama seperti poin gravatar diatas, mencantumkan nama asli membuat komentar anda lebih manusiawi. Komentar mengomentari itu seperti berdialog. Lebih enak berdialog kepada Fikri atau kepada F1k121?
Cantumkan link ke website anda
Umumnya fitur komentar memiliki 4 kolom untuk diisi: kolom nama, alamat email (untuk verifikasi dan memastikan bahwa anda bukan bot spam), alamat website dan konten komentar anda. Umumnya, kolom alamat website tidak wajib untuk diisi, namun akan lebih baik jika anda mengisi kolom ini. Bagaimana jika anda tidak memiliki alamat website / blog? Sertakan saja alamat link menuju akun social media seperti twitter anda. Hal ini memudahkan pemilik blog jika mereka menemukan komentar anda menarik dan ingin mengetahui lebih banyak mengenai anda.
Miliki akun dan profile berbagai third-party commenting system
Banyak blog yang mulai menggunakan commenting system pihak ketiga seperti Disqus dan IntenseDebate. Umumnya commenting system ini menyediakan profile untuk usernya. Jadi setiap komentar anda akan diagregasi ke profile anda. Hal ini akan membuat anda lebih mudah dikenali oleh komentator lain / pemilik situs yang anda komentari. Sebagai contoh, ini profile saya di disqus dan Intense Debate.
Itu dia seni dan etika berkomentar yang saya ketahui. Ada yang mau menambahkan, mengoreksi, atau memberi masukan? Feel free to comment.
Dapatkan update harian bloggingly GRATIS di RSS Reader anda! Subscribe sekarang RSS FEED BLOGGINGLY !
Apa itu RSS? Kenali RSS di halaman ini

Arham bilang,
Untuk poin ke 2 dan ketiga ini, yang agak sulit sulit gampang. soalnya kalau setuju pasti ngak ada argument *kayak komen yg ini
Soal cantumkan link website, yang ini saya sering banget bertemu komentator yang ngak ngasih webnya, apa sebaiknya pakai intensedebate yah? Trus dengan pakai ID, berarti kita juga bisa kehilangan fungsi tambahan yang bisa saja di sinergikan dengan plugin seperti cubepoint (berguna untuk member site)
on 22 Feb 2010 / 11:22
kharis sulistiyono bilang,
sudah seharusnya kita berkomentar sopan untuk menunjukkan diri kita seorang blogger yang nga’ asal blogwalking. Saya sering nemu komentar mantap gan! dan sebagainya. Menurut saya pribadi komentar yang seperti itu kurang sopan dan kesannya si komentator hanya mencari back link saja tanpa melihat value dari post yang dikomentari.
Namun tidak semua blogger pandai menanggapi postingan orang lain apa lagi merangkai komentar sehingga menjadi komunikasi yang berkelanjutan. Saya ingat di salah satu aboutnya Navinot yang mengijinkan pengunjungnya yang tidak jago menuliskan pendapat untuk sekedar absen melalui kolom komentar.– Mungkin itu bentuk apresiasi Navinot pada setiap pengunjungnya.
on 22 Feb 2010 / 13:32
Hangga Nuarta bilang,
Setuju banget dengan semua isi dari post ini. Saya kadang sangat menyayangkan komentar dari teman baik saya yang hanya “nice post gan!” atau “saya coba deh gan!”. Pasalnya komentar tersebut selalu ketangkep Akismet. Pada awalnya saya approve walaupun begitu. Tapi lama-lama kok ya gak nyaman sekali. Walaupun teman baik, delete deh…
on 22 Feb 2010 / 16:47
Tutorial Admob bilang,
yang terakhir itu blm punya mas, baru denger istilah third-party
on 22 Feb 2010 / 18:37
Graha Nurdian bilang,
@Hangga
Yap meski teman kalau mengganggu ya tetap saja
Menanggapi poin pertama apalagi kalau ada komentar tentang tukeran link, kaya gini “Nice info bro, visit balik ya ke blog gw http://www.blabalbal.com” wah ini nih gak enak, jadi mereka visit ke blog kita cuma sekedar nitip link buat kita kunjungi balik. Sudah pasti dia enggak baca post kita iya enggak?
on 22 Feb 2010 / 18:55
Darin bilang,
Untuk blogger yang mulai lagi blogging seperti saya, komentar apapun saya terima
Maklum, masih butuh penyegaran dengan mensosialisasikan sekaligus ingin tahu mana blogger yang aktif dan yang tidak.
Namun kesopanan dan etika juga perlu, mengingat itu adalah two ways communication. Kita akan mengapresiasi lebih blogger yang komentarnya sopan dan membangun.
Salam kenal pak
on 23 Feb 2010 / 15:26
Fikri bilang,
@arham
yap, yang namanya “value” itu relatif sih. Tapi setidaknya kalau hanya “numpang” absen itu kan sudah jelas
saya rasa itu terjadi karena tidak semua orang memiliki website / blog sendiri. Menggunakan intensedebate juga masalahnya sama kalau saya rasa. Jika pengunjung tidak cukup “geek” untuk memiliki blog sendiri, apalagi profile Intense Debate?
@Kharis
kalau di NavinoT itu setahu saya “ngabsen” di halaman aboutnya saja, bukan di setiap kolom komentar.
NavinoT itu salah satu blog lokal yang pembacanya kritis2. LIhat deh komentarnya yang panjang2.
@Hangga
yap, agak annoying kan rasanya?
@Tutorial Admob
Yap, maksudnya third party itu aplikasi pihak ketiga
@Graha (lagi)
wah, yang seperti itu langsung saya trash itu
on 24 Feb 2010 / 07:34
dani bilang,
Yang menarik adalah fenomena hitam putih itu akan tetap ada.
Apakah pengomentar yang memperkaya konten perlu mendapat penghargaan tersendiri lebih sering?
Pengelola situs kadang juga butuh jumlah komentar demi nilai interaksi, alasan sekadar silaturahmi atau bahkan kepopuleran dan kebanggaan.
Menjadi bermasalah saat berlangganan tiap komentar baru di suatu blog, tapi isinya hanya out-of-topic. Sudah out-of-topic, ditanggapi serupa pula oleh pengelola blog. Saatnya unsubscribe, bagi saya.
Setidaknya, pengomentar bisa membedakan, di situs mana bisa OOT, di mana tidak. Jangan budaya komentar asal mampir itu disamaratakan.
Identitas nama, surel, alamat situs (tidak hanya blog) menurut saya untuk alasan mempertanggungjawabkan komentar yang tertulis.
on 27 Feb 2010 / 18:07
Nurdiana Atmanagara bilang,
Setuju sekali… Aku juga sering kesel dapat komentar aneh-aneh
on 28 Feb 2010 / 17:17
Fikri bilang,
@Nurdiana
Rasanya menyebalkan ya mendapatkan komentar yang tidak nyambung itu?
@Dani
yap, kalau siapa yang berkomentarnya jelas, tentu yang bersangkutan akan lebih ‘care’ terhadap komentarnya bukan?
Nah itu dia, netizen kita ini kebanyakan masih belum bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang seharusnya ya.
on 28 Feb 2010 / 19:30
afdil bilang,
Maaf mas malah balik bertanya.
Benar ndak ada yang bilang jika berkomentar di web yang menggunakan intense debate jauh lebih dihargai google (dalam hal seo) dibandingkan dengan coment biasa
on 28 Feb 2010 / 21:31
aguscwid bilang,
Salam kenal,mas. Menarik ya mas kalo bicara seni dan etika berkomentar di sebuah posting artikel. Kalo di dalam dunia nyata kita diajarkan sopan-santun berbicara dengan orang, diajarkan unggah-ungguh (orang jawa nih), mungkin seharusnya nilai-nilai di dunia nyata yang baik, bisa kita upload dan diterapkan ke dunia maya ini. Semoga tulisan mas Fikri membawa inspirasi bagi para blogger. Sukses.
on 28 Feb 2010 / 23:58
eka nugraha bilang,
yang penting kalau menurut saya adalah pergunakan nickname secara konsisten, ini juga ada kaitan sama sopan santunnya sih. saya pernah liat komentar seorang blogger dimana pada komentar pertama kedua dan ketiganya dst menggunakan nama2 berbeda, gravatarnya sama. ini mengganggu kalo menurut saya
on 01 Mar 2010 / 11:14
Pandu Truhandito bilang,
Aha! Mirip banget sama yang gue pernah bikin juga fik
Gue pernah bikin 7 langkah berkomentar di blog untuk mendatangkan trafik berkualitas, mungkin ada poin yang bisa ditambahin ke entry ini.
@”Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan”
Betul sekali. Dan kalimat ini sebenarnya fondasi dari semua skill untuk social networking. Sayangnya kebanyakan orang hanya menerapkannya sebatas perkataan dan bukan perbuatan
Apalagi yang berkomentar untuk kepentingan SEO.. haduh..
on 06 Mar 2010 / 21:19
Fikri bilang,
@Afdil
saya kurang tahu mengenai masalah itu ya. Setahu saya sih tidak begitu berpengaruh. kalau kamu di link di tulisan blog yang PRnya tinggi dan struktur situs kamu secara SEO dan kontennya memang relevan, baru berpengaruh.
@Aguscwid
salam kenal juga Pak Agus. Yap, masyarakat kita (mayoritas) secara digital memang belum dewasa. Tugas kita yang pahamlah untuk membantu “mendewasakan” mereka
@Eka
wah, bukan mengganggu lagi. bahaya impersonating (eh, benar bukan spellingnya begitu? CMIIW)
@Pandu
wah, komentar untuk kepentingan SEO semata itu disturbing sekali. Pendapat gue sih mau nyepam komentar dimanapun juga kalau situsnya tidak relevan dan struktur situsnya ngga bagus ya percuma LOL
anyway, tulisan lu keren ndu. Yang lebih keren adalah reader dan komentatornya yang sangat “engaging” dengan komentar2 argumentatif. like blogger like visitor kali ya – pembaca suatu blog itu ya yang serupa dengan blogger penulisnya. Komentar2 lu kan biasanya in depth banget
(halah, asal buat peribahasa)
on 09 Mar 2010 / 19:06
Vincent Hadi Wijaya bilang,
Setuju sama Mas Hangga. kadang ada aja komentar dari temen yang agak nyeleneh. tapi apa boleh buat. kalau sudah keterlaluan baru deh didelete.
Artikel yang bermanfaat. thanks Mas Fikri.
on 16 Mar 2010 / 03:05
Fikri bilang,
yep, sama2 Mas Vincent. hihi, kalau sekarang saya mah jadi lebih strict. mulai jadi strong believer dari teori broken window nih :p
on 16 Mar 2010 / 19:40
rukzzolangan bilang,
setuju kang,kadang saya sering menemukan suatu komentar yang terkadang tidak berhubungan dengan postingan,dan tidak banyak juga mereka hanya beriklan.hal tersebut menurut saya memang sangat menyesalkan hal itu dan bikin kesel
on 20 Mar 2010 / 01:35
Fikri bilang,
@ruzkkolangan
yap. kalau saya sih yang tidak nyambung langsung di trash saja
on 25 Mar 2010 / 13:02
Ged Carroll bilang,
Hi Fikri,
Glad you found the picture of use. I have been going around seeing where people have used my pictures and learning a bit from the different. Unfortuately your post got a bit of a mauling from Google Translator.
Best regards,
Ged
on 03 Apr 2010 / 01:07
Fikri bilang,
@Ged
I usually use creative common licensed pictures posted in Flickr for my post’s illustration. Thanks for allow it used by people, Ged. It’s really helpful
Wow, thanks for your comment!
Well, Google Translator isn’t able to translate Bahasa (Indonesia’s National Language) smoothly. Overall, this post is all about blog-commenting manner. Here in Indonesia, not all of us accustomed with using the so-called “freedom of speaking” in Internet wisely. We’re still in the beginning of the learning curve
on 03 Apr 2010 / 21:43
Om Kicau bilang,
Namanya saja ya orang banyak sih ya, jadinya tidak semuanya memiliki standar etika yang sama dalam blogwalking.
Kalau ada pemberi komentar yang sekadar pengin mendapatkan backlink, menurut saya kok nggak enak juga kalau langsung di-delete. KECUALI kalau di bagian blog kita sudah ada semacam “peringatan” misalnya “one liner comment will be delete” dsb-dsb…
Dengan demikian, ada semacam upaya “edukasi” untuk teman-teman blogger. Ketika membaca peringatan itu, mereka pasti akan bertanya-tanya, kenapa? Nah, bagusnya lagi, peringatan itu me-link ke artikel semacam yang ditulis Om Fikri ini. Wah, pasti lebih Ok.
on 13 Apr 2010 / 23:17
Fikri bilang,
hihi, kalau saya sih langsung di delete *galak* karena (bagi saya) pada dasarnya, komentar yang “banjir backlink” itu sama seperti spam
yap, artikel ini merupakan salah satu upaya edukasi untuk hal itu. kedepannya mungkin kita perlu lakukan dengan lebih sistematis ya
on 17 Apr 2010 / 18:40
[»] Lets Play [«] » Blog Archive » Seni dan Etika Berkomentar bilang,
[...] source [...]
on 25 Apr 2010 / 15:31
The Baby bilang,
Waduh mas dalam banget nih walau hanya ngebahas etika “koment”. Setuju banget aku. aku mulai belajar WP jadi banyak belajar dari blog ini dan postingannya mas fikri di blog luar yang lain. sukses terus mas semoga bermanfaat untuk kita semua.
on 25 Apr 2010 / 16:58
AKHMAD SUDRAJAT bilang,
Interaksi di dunia maya pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan di dunia nyata.
Di sana akan terlihat tingkat kompetensi sosial seseorang
on 25 Apr 2010 / 17:12
rifla bilang,
tetapi ngk slmax jg kompetensisosial itu terlihat…
krna dlm dunianyata saja kompetensi sosial itu sdah mk\lai berkurang……………..
on 09 Jun 2010 / 15:09
Mitrahadi bilang,
Sebetulnya tidak susah ya buat kita orang Indonesia untuk santun berkomunikasi, karena kita sudah dibiasakan dengan ajaran budi pekerti yang halus.
on 17 May 2010 / 18:56
Jeprie bilang,
Artikel ini mengingatkan saya pada artikel ini:
http://www.webdesignerdepot.com/2010/03/how-to-kill-the-design-community/
Saya rasa perlu juga diperjelas bahwa nickname berbeda dengan keyword. Banyak orang yang menggunakan keyword dalam nama komentarnya, contoh: “Tips SEO”, “Web Desainer xxx”.
Tambahan juga, keuntungan lain menggunakan gravatar yang sama di semua account adalah untuk membangun image/branding.
on 28 May 2010 / 08:48
rifla bilang,
setiap komentar orang baik positif maupun negatif wajib kita trima dengan baik asalkan cara penyampaian si pemberi komentar baik juga….
krna smua itu demi kebaikan kita jga…..
on 09 Jun 2010 / 15:04
sulfikar bilang,
menarik, saya akan memasang link artikel ini di artikel sy di Kompasiana berkaitan dengan etika berkomentar
on 10 Jun 2010 / 22:09
Fikri bilang,
Terima kasih untuk tautannya
on 19 Jun 2010 / 12:42
vicode bilang,
thanks infoX
on 23 Jan 2011 / 16:16
Etika Berkomentar (di blog ini) | Rudy Azhar bilang,
[...] Ingat, dalam menyampaikan komentar harus memperhatikan Seni & Etika Berkomentar. [...]
on 01 Feb 2011 / 21:53
Cara berkomentar di blog « TIK SMA MUH.1 SRG bilang,
[...] Ingat, dalam menyampaikan komentar harus memperhatikan Seni & Etika Berkomentar. [...]
on 19 Apr 2011 / 10:31