Mar 25, 2010
Menelaah Subkultur Netizen
oleh Fikri

image credit: DCS09927 by rsepulveda
Saya cukup beruntung untuk dapat menghadiri forum diskusi MarkPlus Power Lunch: Youth, Women & Netizen yang dimoderasi langsung oleh Hermawan Kartajaya di Bandung kemarin. Kurang beruntungnya, saya belum dapat kesempatan untuk berbagi apa yang saya ketahui mengenai netizen dan perilakunya di forum tersebut. Ya sudahlah, berbagi melalui blog juga bisa kan?
Mengapa harus saya bahas di bloggingly?
Karena blogger -saya, anda, kita- merupakan Netizen yang menjadi semakin valuable di mata para marketer di era New Wave. Jika anda kegiatan anda ngeblog menunjukkan positioning siapa diri anda, apa peran anda bagi para pembaca / pengikut anda dan betapa kehadiran anda tersebut dapat sangat bermanfaat bagi para marketer tersebut, bukan tidak mungkin akan terjadi simbiosis mutualisme antara anda dan para marketer tersebut. Untuk lebih jelasnya, saya merekomendasikan anda untuk membaca ulasan saya mengenai Youth, Women dan Netizen yang menjadi tiga sub kultur utama dalam New Wave Marketing di blog saya.
Okay then, here we go:
Apa itu Netizen?
Jika ditilik dari segi bahasa, saya rasa netizen merupakan istilah yang dibentuk dari kata Net (internet) dan Citizen (warga). Jika di satukan, artinya kurang lebih “warga internet” atau “penduduk dunia internet”.
Sederhananya, netizen adalah pengguna internet yang berpartisipasi aktif (berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, berkolaborasi, dll) dalam media internet.
Siapakah Netizen itu?
Netizen adalah siapa saja yang mengakses dan menggunakan internet. Mulai dari ABG yang sangat aktif mobile chatting menggunakan ebuddy atau bahkan berjam-jam membuka halaman facebook, mahasiswa yang bersuara kritis melalui media blog hingga para kaum dewasa-tua yang mengakses facebook untuk mencari teman-temannya yang “telah hilang”. Blogger, pengguna twitter, pengguna facebook dan ‘aktivis’ social media lainnya termasuk kedalam kategori netizen.
Apa saja yang Netizen lakukan?
Pada dasarnya, ada tiga hal yang dilakukan Netizen di Internet:
- Berkomunikasi dengan Netizen lainnya melalui melalui media-media seperti skype, email, chat, wall-to-wall, dll.
- Menyuarakan pendapatnya (dapat berupa rekomendasi, kecaman, opini, masukan mengenai sesuatu, mempromosikan band-nya, mengekspresikan dirinya, dll) melalui berbagai social media seperti twitter, facebook, tumblr, dll
- Berkolaborasi melalui aplikasi web yang dapat digunakan secara kolaboratif dan real time melalui aplikasi-aplikasi seperti Google Docs, Google Spreadsheet, Zoho, dll
Budaya dan bahasa netizen
Medium internet yang digunakan oleh Netizen seringkali menciptakan “budaya” dan discourse tersendiri yang (kebanyakan) tidak dikenali oleh citizen. Kaskuser yang jumlahnya diatas satu juta orang akrab dengan istilah “cendol” atau “pertamax” serta sapaan “gan (diambil dari kata juragan – CMIIW) sementara para pengguna twitter sudah fasih dengan istilah Retweet, mention dan trending topic. Blogger pun tidak kalah dengan “budaya” dan discourse mereka seperti posting, kopdar, Pesta Blogger dan lain – lain.
Perilaku offline Netizen
Ketika sedang offline, Netizen tidak berbeda dengan citizen (warga) lainnya. Mungkin ada beberapa perilaku unik yang membedakan seorang netizen dengan citizen seperti kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi (pengoptimalan kamera digital yang wow), handphone / smartphone yang selalu aktif dan tweet yang selalu dipublish, dan kecenderungan untuk memilih ‘bercengkrama’ di tempat yang ada hotspotnya. Meskipun begitu, hal tersebut tidak berlaku secara keseluruhan.
Mengapa Netizen menjadi penting
Netizen menjadi sangat valuable dan berpengaruh karena mereka mereka sangat aktif menyuarakan pendapatnya dan suara mereka dapat diakses dimanapun selama terdapat koneksi internet. Netizen menyuarakan pendapatnya melalui internet karena ada suara / pendapat mereka yang tidak terakomodir melalui media offline (yang ternyata memiliki jangkauan geografis lebih luas dibandingkan media offline). Netizen menyuarakan hal-hal yang sejalan dengan nilai yang dianutnya. Netizen tidak dibayar atau dikomando, melainkan berpartisipasi aktif dengan suka cita. Netizen dengan senang hati akan mengulas apapun yang menjadi perhatian personalnya: entah buku keren yang baru saja dibaca, isu sosial politik terbaru, restoran baru yang super enak, atau bahkan info sale yang digelar di toko-toko yang favoritnya. Fitur-fitur media social seperti ReTweet, share button bahkan membuat ‘suara’ yang disuarakan netizen tersebut begitu viral dan memiliki jangkauan luas.
Dalam struktur sosial yang lebih kompleks, mekanisme yang dibangun di social media membuat tiap-tiap netizen menjadi ‘pemimpin tribe‘ karena fitur-fitur social media memungkinkan adanya relationship ‘pengikut’ dan ‘diikuti’: seorang blogger yang blognya dibaca oleh 5000 orang setiap harinya memiliki ‘channel’ untuk mempengaruhi 5000 pembaca tersebut. Sebagian pembaca yang terinspirasi dan akan dapat mendiskusikan tulisan yang diterbitkan di blog tersebut di channel social media yang lain atau bahkan merekomendasikan tulisan tersebut kepada ‘follower’ yang mengikutinya melalui twitter atau blog sang pembaca.
Netizen di mata pemasar
Bagi pemasar atau siapapun yang memiliki kebutuhan untuk “menyampaikan pesan”-nya (politisi, LSM, aktivis, dll) kepada khalayak, mengundang netizen yang tepat (memiliki pengaruh di bidang tertentu) dan memiliki passion dibidang yang anda geluti untuk terlibat dan berpartisipasi melalui channel-channel komunikasi yang dimilikinya bisa jadi merupakan suatu jalan untuk menyebarkan ide yang “low budget & high impact”, selama apa yang “disodorkan” sesuai dengan value yang mereka percayai dan topik yang mereka minati.
Netizen Indonesia di ranah global
Dari informasi yang saya dapat di WordCamp ID, pengguna wordpress.com (situs penyedia layanan blogging) dari Indonesia menempati posisi ketiga setelah U.S dan spanyol. Menurut informasi yang dirilis oleh Internet World Stats (diakses pada tanggal 25 Maret 2010), ada 30 juta pengguna internet (netizen) di Indonesia (dari 1.7 Milyar pengguna internet dunia) dengan penetrasi pengguna berbanding total penduduk 12.5 % dan pertumbuhan pengguna internet (2000 – 2009) hingga 1,150.0 %.
Contoh terkini mengenai pengaruh netizen Indonesia di ranah global adalah topik-topik lokal yang menembus trending topic di twitter. Twitter, layanan microblogging termaju saat ini, memiliki mekanisme trending topic dimana twitter akan mengkalkulasi frase / kata kunci apa yang paling banyak terkandung dalam setiap ‘tweet’ yang dipublikasikan di seluruh dunia dan menampilkan ‘topik’ paling banyak dibahas berdasarkan kalkulasi kata kunci tersebut di halaman depan twitter (dan profile page serta twitter search tentunya) yang diakses jutaan pengguna. Yang lebih mengejutkan, topik dari Indonesia sudah seringkali ‘menembus’ jajaran trending topic twitter. Lebih mengejutkannya lagi, trending topic yang di-generate oleh kaum muda (youth) seperti Retweet Deh (yang mana dinilai cenderung tidak penting oleh beberapa pihak yang lebih ‘berumur’) berhasil menembus trending topic twitter beberapa saat yang lalu. Hal ini menunjukan ‘kekuatan’ para Youth yang tumbuh sebagai digital native di ranah internet global.
‘Kekuatan’ netizen di ranah lokal
Banyak sekali contoh kasus bagaimana netizen telah mempengaruhi opini publik dewasa ini. Mulai dari aksi Koin untuk Prita yang digalang oleh blogger lokal (yang anda tahu hasilnya bagaimana) untuk melawan ‘tirani’ korporasi kesehatan yang (dinilai) sangat arogan, aksi Indonesia Unite sebagai ekspresi perlawanan terhadap aksi pemboman dan penolakan terhadap RPM konten yang digalang oleh para pengguna twitter, serta grup – grup facebok “satu juta orang dukung bla bla bla” yang semakin diekspos oleh media massa lokal.
Apa arti Netizen untuk anda?
Sekarang giliran anda berbagi. Apa arti netizen untuk anda? Apa yang para citizen perlu tahu mengenai netizen? Silahkan suarakan pendapat anda melalui kolom komentar.
Dapatkan update harian bloggingly GRATIS di RSS Reader anda! Subscribe sekarang RSS FEED BLOGGINGLY !
Apa itu RSS? Kenali RSS di halaman ini
Ulasan MarkPlus PowerLunch dengan Hermawan Kartajaya: Youth, Women & Netizen | fikrirasyid.com bilang,
[...] Beberapa hal yang saya sayangkan dari event ini adalah saya catatan di yang saya buat di handphone saya tidak bisa diakses (my bad) dan kemarin saat saya ingin memberi tambahan mengenai netizen, (karena saya rasa ada banyak yang dapat saya tambajkan) diskusinya terlanjur ditutup (dan sayanya juga cukup gugup :p). Ya sudah lah, hal-hal yang saya ketahui mengenai Netizen sudah saya post di bloggingly. [...]
on 25 Mar 2010 / 12:39
eka nugraha bilang,
netizen kalo buat saya citizen journalist yang lebih berkembang ya, dulunya kan CJ itu lewat media cetak dan radio saja CMIIW. Dan memang mereka punya filosofi “to share” amka menjadi wajar mereka tidak dibayar atau dikomando dan malah berpartisipasi aktif. Karena mereka tidak punya kepentingan, kalaupun ada ya kepentingan berbagi. Beda dengan media massa umumnya yang filosofinya “to cover” ada cover kepentingan di sana, entah itu kepentingan redaksi, pemilik modalnya dll.
on 26 Mar 2010 / 08:53
fanari bilang,
Berbicara mengenai perilaku offline netizen.. well, menurut gw ngga semuanya yg aktif berinternet pantas disebut sebagai netizen. Kadang perilaku ‘unik’ sebagian dari mereka sama sekali ngga bisa dikatakan ‘unik’, yah.. you know, semacam perilaku yg menunjukkan lack of social energy, yg semakin menegaskan bahwa manusia modern semakin dikondisikan untuk terputus dari kehangatan komunikasi karena ulah kemajuan teknologi. Gw rasa, istilah netizen mungkin perlu disempitkan lagi untuk pengguna internet yg mau aktif berpartisipasi online maupun offline, dan bener2 bisa memberi pengaruh kuat dengan menyampaikan suara2 mereka via ‘social’ media
on 27 Mar 2010 / 00:22
Arham bilang,
Memang menarik yah kultur netizen. Ada bahasa bahasa yang terdengar remeh / asing bagi edukator tapi justru lebih berharga dibandingkan rumus rumus.
btw
ngak sekalian diingatkan tentang tangga netizen? karna memang tak selamanya yang online itu aktif(savvy)
on 28 Mar 2010 / 12:56
ardianzzz bilang,
aha, saya jadi teringat blognya jasonsantamaria. pada postingnanya tentang recomended reading. Jujur itu adalah metode jualan yang sangat bagus!
on 30 Mar 2010 / 00:28
mas doyok bilang,
nggak bisa berbaginya karena kehabisan waktu atau masih kehabisan nyali kek saya mas kalau di forum hehehe
duiem aja seribu basa
ndak papa lah
di share disini juga terbaca banyak orang kok…
kalaum menueurt saya netizen.. sudah terlalu beraneka ragam.. apa yak??
lagi lagi kehabisan nyali saya hehehe
on 31 Mar 2010 / 09:03
Fikri bilang,
@eka
yap, that’s the point: perbedaan kepentingan
@fanari
itu juga yang perlu dipertimbangkan sih. ada perbedaan jelas antara “netizen” yang memiliki rasa “kepemilikan” karena mereka “benar-benar hadir” di internet dengan mereka yang sekedar “pengguna” saja.
@Arham
yap. every society has its own discourse. wah, menarik juga tuh. tulislah tentang itu ham
@ardianzz
that’s the nature of netizen: memberi rekomendasi, memberi pemikiran, dll
@mas doyok
kenapa harus habis nyalinya? santai saja
on 03 Apr 2010 / 22:35
Jeprie bilang,
Satu contoh blogger lokal yang berhasil ialah Mas Triatmono, http://triatmono.wordpress.com. Gayanya unik, bahasanya aneh, sekarang dia jadi salah satu blogger rujukan di industri sepeda motor.
Satu hal menonjol yang saya amati dari blognya, bahasannya jujur dan consumen minded.
on 28 May 2010 / 08:36
ucok bilang,
nitizen itu pasar gemuk di masa depan…
on 04 Nov 2010 / 16:28